Poetry Hujan : Lenteraku Tertiup
Pagi telah menghapus jejak malam
Menyisih jalan sinar sang rembulan
Mengembunkan titik hujan di padang huma
Menarik setiap jiwa lekas melenggangi tanah alam
Menghamparkan kebahagiaan sejalan mentari
Berbeda jika tanpa senyumannya
Yang kini telah melambai terlampau jauh
Melanglang menuju kediaman setenang semilir shubuh
Yang sejauh ini tak beralamat serupa hunian nyata
Hanya berpintu sebatas gundukan tanah bernisan
Aku cukup letih merangkap lembaran rindu
Untaian bijaksana mendekapku semasa tegapmu
Ketika mendung menjalar , hujan mengguyur lebat
Percikan setetes lalu pelangi seusai keberkahan
Dalam kearifan setiap ucap , kau memujiNya
Kini , aku pagi bertinta buram
Bersama awan tipis yang ragu menghalangi surya
Lalu berlalu hingga siang
Dan merangkak senja menuju malam
Dalam dekapanku sendiri
Hanya aku , tanpa kehangatan jiwamu
Kalbuku luruh saat merangkai kenangan
Seakan waktu termakan tanpa jeda
Ketika indahnya harus berhenti secepat kemarin
Bersemayam tenang mendekatiNya
Tundukku menitik peluh bening kehilangan
Kau ayah , cahaya pagiku
Kau ayah , peneduh hujanku
Kau ayah , mimpi malamku
Selamat bersemayam , salamkan aku padaNya
Tenang dan nantilah aku
Bersama pagi dan hujan kebahagiaan
Menyisih jalan sinar sang rembulan
Mengembunkan titik hujan di padang huma
Menarik setiap jiwa lekas melenggangi tanah alam
Menghamparkan kebahagiaan sejalan mentari
Berbeda jika tanpa senyumannya
Yang kini telah melambai terlampau jauh
Melanglang menuju kediaman setenang semilir shubuh
Yang sejauh ini tak beralamat serupa hunian nyata
Hanya berpintu sebatas gundukan tanah bernisan
Aku cukup letih merangkap lembaran rindu
Untaian bijaksana mendekapku semasa tegapmu
Ketika mendung menjalar , hujan mengguyur lebat
Percikan setetes lalu pelangi seusai keberkahan
Dalam kearifan setiap ucap , kau memujiNya
Kini , aku pagi bertinta buram
Bersama awan tipis yang ragu menghalangi surya
Lalu berlalu hingga siang
Dan merangkak senja menuju malam
Dalam dekapanku sendiri
Hanya aku , tanpa kehangatan jiwamu
Kalbuku luruh saat merangkai kenangan
Seakan waktu termakan tanpa jeda
Ketika indahnya harus berhenti secepat kemarin
Bersemayam tenang mendekatiNya
Tundukku menitik peluh bening kehilangan
Kau ayah , cahaya pagiku
Kau ayah , peneduh hujanku
Kau ayah , mimpi malamku
Selamat bersemayam , salamkan aku padaNya
Tenang dan nantilah aku
Bersama pagi dan hujan kebahagiaan
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis
Poetry Hujan : Hujan Mimpiku Berpelangi
Cerita sebuah mimpi itu membangkitkan
Lelapnya jiwa hambar dalam kehidupan
Dan ceritaku telah kalian mulai dari jiwa yang ikhlas
Sedamai hamparan taman persahabatan
Semasa aku bercerita pada kalian
Akan mimpi-mimpiku yang melambung
Rintikan semangat dari kalian tengah segar membasahi jiwa
Aku , jiwa pemimpi yang tergugah menjadi hebat
Lalu
Berlalu , beberapa waktu
Hiruk pikuk kalian reda
Senggang , lalu memisah dariku
Yang kutahu , kalian juga melangkah
Menggapai butiran mimpi yang mekar
Kalian , jiwa pemimpi yang tergugah menjadi hebat
Laun kuterima degup kegembiraan
Hujan kebahagiaan pelangi kesuksesan
Membisik jiwaku yang merindukan kalian
Perjuangan menerjang gerbang masa depan masih berjalan
Bersamaku di kota ini dan bersama kalian di medan asa
Kabarkan padaku wahai kawan
Ketika tahun berlalu dan merekah cerita manis
Lelapnya jiwa hambar dalam kehidupan
Dan ceritaku telah kalian mulai dari jiwa yang ikhlas
Sedamai hamparan taman persahabatan
Semasa aku bercerita pada kalian
Akan mimpi-mimpiku yang melambung
Rintikan semangat dari kalian tengah segar membasahi jiwa
Aku , jiwa pemimpi yang tergugah menjadi hebat
Lalu
Berlalu , beberapa waktu
Hiruk pikuk kalian reda
Senggang , lalu memisah dariku
Yang kutahu , kalian juga melangkah
Menggapai butiran mimpi yang mekar
Kalian , jiwa pemimpi yang tergugah menjadi hebat
Laun kuterima degup kegembiraan
Hujan kebahagiaan pelangi kesuksesan
Membisik jiwaku yang merindukan kalian
Perjuangan menerjang gerbang masa depan masih berjalan
Bersamaku di kota ini dan bersama kalian di medan asa
Kabarkan padaku wahai kawan
Ketika tahun berlalu dan merekah cerita manis
Hujan dan pelangi dari mimpi kalian ...
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis
Aku dan Kami Taqdir Pejuang perang
Aku dan kami
Para pejuang Filistin
Mampukah kalian melukiskan sebuah kehilangan ?
Jika mampu , ajarilah aku dan kami sejenak
Saat seseorang dijemput Sang Khalik , tersedukah kalian ?
Jika iya , ajarilah aku dan kami sejenak
Terkadang aku dan kami ingin berteriak keras
Begitu miris arti sebuah kehilangan
Terkadang aku dan kami ingin sejenak meratapi
Kehilangan yang terlalu sering berlalu tanpa isakan panjang
Kutanya sebentar saja ...
Masihkah kalian menatap dan merasakan birunya langit ,
jingganya fajar dan mega senja ,
patokan ayam hingga sapaan keluarga ,
nyanyian kerindangan sampai senyuman kawan ,
tumpukan PR , rentetan tugas ,
atau sekedar sarapan dari orangtua tersayang ?
Maafkan aku terlalu banyak berucap
Sepertinya aku mulai rindu akan rasa kehilangan
Kehilangan sebagian tawa dan canda
Kini setetes air mataku menitik jatuh
Tapi , cukup setetes kurasa
Aku dan kami ,
Terlalu sering manatap kepulan asap
Reruntuhan pondok - pondok kehidupan
Gelapnya langit pagi hingga senja
Sinar bersuara serupa bintang malam
Derum tembakan yang semakin akrab
Desahan istighfar pun ditemani ketakutan
Jasad mereka yang syahid
Terkadang utuh seringpula hanya sebagian
Bercecar di jalan , di ujung kekejaman
Terkadang aku dan kami ingin menangis keras
Begitu miris arti sebuah kehilangan
Terkadang aku dan kami ingin sejenak meratapi
Kehilangan yang terlalu sering berlalu tanpa isakan panjang
Aku dan kami
Lahir untuk perang
Perang raga dan kebatinan
Aku dan kami
Harus sering merasakan kehilangan
Hingga rasa kehilangan benar - benar telah bersarang
Tanpa tangisan dan rengekan panjang
Aku dan kami
Jiwa pemberani yang terjejali sejak dini
Kepecundangan dan arogansi mereka
Para tentara dan pimpinan kejam yang berjiwa setan
Hendak menggonggong di Filistin
Meraung serupa iblis menindas negeriku dan negeri kami
Maafkan aku dan kami
Sempat membuat iri kalian karena sebuah keberanian
Kami mujahid , tentara barisan depan
Melindungi tanahku , tanah kami , tanah kita
Untuk Filistin yang terampas keji
Kami korbankan nyawa
Kami tak acuhkan kehilangan
Karena kami akan tetap menjadi pejuang perang



