Poetry Hujan : Lenteraku Tertiup

Pagi telah menghapus jejak malam
Menyisih jalan sinar sang rembulan
Mengembunkan titik hujan di padang huma
Menarik setiap jiwa lekas melenggangi tanah alam
Menghamparkan kebahagiaan sejalan mentari

Berbeda jika tanpa senyumannya
Yang kini telah melambai terlampau jauh
Melanglang menuju kediaman setenang semilir shubuh
Yang sejauh ini tak beralamat serupa hunian nyata
Hanya berpintu sebatas gundukan tanah bernisan

Aku cukup letih merangkap lembaran rindu
Untaian bijaksana mendekapku semasa tegapmu
Ketika mendung menjalar , hujan mengguyur lebat
Percikan setetes lalu pelangi seusai keberkahan
Dalam kearifan setiap ucap , kau memujiNya

Kini , aku pagi bertinta buram
Bersama awan tipis yang ragu menghalangi surya
Lalu berlalu hingga siang
Dan merangkak senja menuju malam
Dalam dekapanku sendiri
Hanya aku , tanpa kehangatan jiwamu

Kalbuku luruh saat merangkai kenangan
Seakan waktu termakan tanpa jeda
Ketika indahnya harus berhenti secepat kemarin
Bersemayam tenang mendekatiNya
Tundukku menitik peluh bening kehilangan
Kau ayah , cahaya pagiku
Kau ayah , peneduh hujanku
Kau ayah , mimpi malamku

Selamat bersemayam , salamkan aku padaNya
Tenang dan nantilah aku
Bersama pagi dan hujan kebahagiaan

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis
Selasa, 26 Juli 2011
Posted by Etika Indra Khusna

Poetry Hujan : Hujan Mimpiku Berpelangi

Cerita sebuah mimpi itu membangkitkan
Lelapnya jiwa hambar dalam kehidupan
Dan ceritaku telah kalian mulai dari jiwa yang ikhlas
Sedamai hamparan taman persahabatan

Semasa aku bercerita pada kalian
Akan mimpi-mimpiku yang melambung
Rintikan semangat dari kalian tengah segar membasahi jiwa
Aku , jiwa pemimpi yang tergugah menjadi hebat

Lalu
Berlalu , beberapa waktu
Hiruk pikuk kalian reda
Senggang , lalu memisah dariku
Yang kutahu , kalian juga melangkah
Menggapai butiran mimpi yang mekar
Kalian , jiwa pemimpi yang tergugah menjadi hebat

Laun kuterima degup kegembiraan
Hujan kebahagiaan pelangi kesuksesan
Membisik jiwaku yang merindukan kalian
Perjuangan menerjang gerbang masa depan masih berjalan
Bersamaku di kota ini dan bersama kalian di medan asa

Kabarkan padaku wahai kawan
Ketika tahun berlalu dan merekah cerita manis
Hujan dan pelangi dari mimpi kalian ...

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis
Senin, 25 Juli 2011
Posted by Etika Indra Khusna

Aku dan Kami Taqdir Pejuang perang

Aku dan kami
Para pejuang Filistin
Mampukah kalian melukiskan sebuah kehilangan ?
Jika mampu , ajarilah aku dan kami sejenak
Saat seseorang dijemput Sang Khalik , tersedukah kalian ?
Jika iya , ajarilah aku dan kami sejenak

Terkadang aku dan kami ingin berteriak keras
Begitu miris arti sebuah kehilangan
Terkadang aku dan kami ingin sejenak meratapi
Kehilangan yang terlalu sering berlalu tanpa isakan panjang

Kutanya sebentar saja ...
Masihkah kalian menatap dan merasakan birunya langit ,
jingganya fajar dan mega senja ,
patokan ayam hingga sapaan keluarga ,
nyanyian kerindangan sampai senyuman kawan ,
tumpukan PR , rentetan tugas ,
atau sekedar sarapan dari orangtua tersayang ?
Maafkan aku terlalu banyak berucap

Sepertinya aku mulai rindu akan rasa kehilangan
Kehilangan sebagian tawa dan canda
Kini setetes air mataku menitik jatuh
Tapi , cukup setetes kurasa

Aku dan kami ,
Terlalu sering manatap kepulan asap
Reruntuhan pondok - pondok kehidupan
Gelapnya langit pagi hingga senja
Sinar bersuara serupa bintang malam
Derum tembakan yang semakin akrab
Desahan istighfar pun ditemani ketakutan
Jasad mereka yang syahid
Terkadang utuh seringpula hanya sebagian
Bercecar di jalan , di ujung kekejaman

Terkadang aku dan kami ingin menangis keras
Begitu miris arti sebuah kehilangan
Terkadang aku dan kami ingin sejenak meratapi
Kehilangan yang terlalu sering berlalu tanpa isakan panjang

Aku dan kami
Lahir untuk perang
Perang raga dan kebatinan

Aku dan kami
Harus sering merasakan kehilangan
Hingga rasa kehilangan benar - benar telah bersarang
Tanpa tangisan dan rengekan panjang

Aku dan kami
Jiwa pemberani yang terjejali sejak dini
Kepecundangan dan arogansi mereka
Para tentara dan pimpinan kejam yang berjiwa setan
Hendak menggonggong di Filistin
Meraung serupa iblis menindas negeriku dan negeri kami

Maafkan aku dan kami
Sempat membuat iri kalian karena sebuah keberanian
Kami mujahid , tentara barisan depan
Melindungi tanahku , tanah kami , tanah kita
Untuk Filistin yang terampas keji

Kami korbankan nyawa
Kami tak acuhkan kehilangan
Karena kami akan tetap menjadi pejuang perang



Rabu, 08 Juni 2011
Posted by Etika Indra Khusna
Tag :

My Clock

Popular Post

Pengunjung Blog

unique stats

- Copyright © Kaf -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -